Tuesday, December 27, 2011

Semar Mbangun Kahyangan

Ini adalah salah satu lakon legendaris dalam pewayangan. Meski hanya lakon carangan, Semar Mbangun Kahyangan hampir pasti pernah dimainkan oleh seluruh dalang. Diluar kisahnya yang penuh edukasi moral, menjadikan sosok punakawan sebagai sentral pertunjukan adalah daya tarik tersendiri bagi dalang maupun penikmat wayang. Pesan dari lakon ini adalah bahwa Semar sebagai simbol rakyat, menghendaki para pemimpin untuk membangun jiwa. Pada lakon ini pula terlihat bahwa terkadang penguasa salah menafsirkan kehendak rakyat, memperlakukan rakyat sebagai objek yang bodoh, penguasa cenderung bertangan besi dan mau menang sendiri. Pada Semar Mbangun Kahyangan ini terlihat pada akhirnya penguasa yang lalim akan terkoreksi oleh rakyat jelata.

Semar adalah dewa yang mengejawantah. Semar adalah rakyat jelata yang mengabdi sebagai pengasuh para raja penegak kebenaran. Ia hanyalah orang kampung, terbalut dalam busana sederhana yang melayani umat tanpa pamrih namun penuh kesungguhan. Kuncung putihnya menyiratkan makna bahwa isi kepala Semar adalah fikiran yang suci, positif, penuh hikmah kebenaran. Dalam kehidupan spiritual Jawa, Semar tak sekadar fakta historis, namun juga mitologi dan simbolisme tentang keEsa-an. Realita ini tidak lain hanyalah bukti bahwa masyarakat Jawa sejak zaman lampau adalah masyarakat yang Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Lakon ini dibuka dengan niat Semar membangun jiwa para Pandawa. Kahyangan yang dimaksud Semar adalah jiwa, rasa dan ruhani keluarga Pandawa. Oleh karenanya Semar mendaulat Petruk untuk mengundang hadirnya Yudhistira dan para saudaranya ke Karang Kabulutan, tempat tinggal Semar. Sebagai tokoh senior sekaligus penasihat agung keluarga Pandawa, sangat masuk akal jika Semar bermaksud membangun ruhani para majikannya. Terlebih undangan itu disertai permintaan untuk membawa tiga pusaka: Jamus Kalimasada, Tumbak Kalawelang dan Payung Tunggulnaga.

Simbolisme tiga pusaka tersebut cukup menjelaskan niat baik Semar. Kalimasada banyak dimaknakan sebagai kalimat syahadat. Dengan pusaka syahadat inilah Semar bermaksud membangun ruhani. Tumbak Kalawelang adalah simbol ketajaman yang dengan personifikasi tersebut Semar bermaksud membangun ketajaman hati, ketajaman visi dan indera para Pandawa. Sedangkan Payung Tunggulnaga adalah ungkapan bahwa Pandawa sebagai pemimpin harus memiliki karakter mengayomi sebagaimana fungsi payung.

Lakon ini membeberkan fakta bahwa penguasa terkadang salah menafsirkan kehendak rakyat. Dan itulah yang terjadi pada diri Kresna ketika Petruk mengutarakan maksud Semar. Kresna menganggap rencana Semar sebagai makar, bertentangan dengan kehendak dewata. Setali tiga uang, Yudhistira yang peragu mengiyakan saja pendapat Kresna. Tak cukup dengan kata-kata kasar yang menciderai hati, Kresna memerintahkan para satria untuk mencelakakan Petruk sekaligus menyerang Semar di Karang Kabulutan. Celakanya, ketika Kresna melaporkan secara sepihak kepada Bathara Guru, pimpinan para dewa itu pun terprovokasi dan bersekutu untuk sama-sama menyerang Semar.


Bukan Semar namanya jika mundur hanya karena ancaman. Merasa punya niat mulia dan meyakini kebenaran suara hatinya, Semar bersama prajuritnya: Petruk, Bagong dan Gareng memberi perlawanan kepada pasukan Pandawa yang didukung Kresna dan Bathara Guru. Disinilah kebenaran bertarung melawan kelaliman. Semar yang jelata, berhasil mengalahkan penguasa pongah yang merasa benar sendiri. Ending yang memukau. Secara tegas kisah Semar membawa pesan bagi penguasa untuk responsif mendengar suara rakyat, untuk bijaksana tak hanya mau menang sendiri, dan tidak semena-mena dalam menegakkan keadilan. Sekaligus pesan bagi rakyat untuk berani menyuarakan kebenaran dan gigih dalam mempertahankan kebenaran itu.

Kisah Semar selalu relevan pada setiap kondisi. Kekuasaan selalu memabukkan, menjadikan penguasa lalai pada amanat dan lupa kepada rakyat. Pesan Semar adalah suara rakyat, yang kendati lirih, terkadang memuat niat kebaikan dan kebenaran. Hari ini, ketika penguasa menelantarkan rakyat dengan asyik berkorupsi, mengabaikan keadilan, memperkaya diri dan menghamburkan duit rakyat untuk kesenangan pribadi, kita merasa bahwa inilah saat yang tepat untuk menghadirkan Semar di tengah-tengah kita. (sumber : kaskus.us)

Friday, September 24, 2010

Catatan Atas Laporan Kehidupanku (CALk)


Ini adalah megenai kebiasaanku yang entah aku sendiri lupa sejak kapan aku melakukannya, yaitu menuliskan kisah atau cerita yang aku alami sendiri yang menurutku sangat berkesan, unik, lucu, sedih, atau saja aku hanya ingin sekedar mencurahkan isi pikiranku melalui tulisan-tulisanku, tanpa harus ada orang lain yang suka atau tidak suka, dan setuju tidak setuju, karena buku ini hanya aku yang membacanya. Buku-ku ini adalah temanku disaat aku membutuhkan tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahku dalam menjalani hari-hariku. Buku diary ini sudah cukup lama menemani hari-hariku, sudah banyak cerita yang aku tuliskan disana.

Bermula dari cerita mengenai perasaanku setelah lulus sekolah menengah atas, perasaanku yang campur aduk setelah diterima di salah satu kampus sekolah tinggi ikatan dinas terkenal dimana seluruh mahasiswanya tidak dikenakan biaya pendidikan dan para lulusannya akan diangkat menjadi pegawai negeri. Perasaanku saat itu sangat senang, meskipun tak pernah sekalipun aku bercita-cita untuk menjadi seorang pegawai negeri, namun karena ikatan dinasnya itulah aku berharap banyak untuk dapat meringankan beban kedua orangtuaku dalam hal biaya kuliah. Namun disisi lain ada beberapa hal yang membuatku cemas, diantaranya adalah aku sama sekali tidak memiliki gambaran sama sekali mengenai Program Studi tempat dimana aku diterima di sekolah tinggi tersebut, Program Diploma III Kebendaharaan Negara.

Kebendaharaan Negara…? Mendengarnya saja aku baru pernah, bahkan ketika melakukan pengisian formulir pendaftaran Ujian Saringan Masuk-nya-pun, pada saat itu aku hanya asal isi saja, sungguh tindakan yang sangat beresiko sebenarnya menurutku, menempuh studi mengenai hal yang diriku saja tidak tahu mengenai masa depan yang terhampar kedepannya mengingat aku akan memulai karirku dari situ dan sejak saat itu, dan tentu saja akan menjadi lahan nafkah bagiku nantinya. Tapi kuyakinkan diriku, semoga ini keputusan yang membawaku kepada arah yang lebih baik.

Bahkan sampai saat daftar ulang pun hatiku masih ragu, untuk melepaskan pilihanku yang satu lagi. Ya memang pada saat yang hampir bersamaan pada saat itu, dalam sebuah lembaran salah satu surat kabar harian, dalam kolom pengumuman hasil seleksi penerimaan mahasiswa, namaku tertulis, dengan jurusan Teknik Elektro di salah satu universitas di dekat kota kelahiranku. Namun aku kembali menguatkan batinku, untuk mengikhlaskan cita-citaku menjadi sarjana teknik untuk bisa bekerja disalahsatu perusahaan milik Negara yang aku impi-impikan. Inilah saatnya bagiku untuk menentukan pertama kalinya pilihan yang paling menentukan dalam hidupku, dan aku harus membuat keputusan, tidak boleh setengah-setengah, karena sikap setengah-setengah adalah merupakan sifat yang egois menurutku. Bagaimana tidak egois? Jika memperoleh kebaikan darinya aku akan setia pada keputusanku, tetapi sebaliknya jika keburukan yang aku peroleh maka aku akan meninggalkannya, sungguh sikap yang tidak patut.

Seminggu, sebulan, setahun, dan tak terasa tiga tahun masa pendidikan telah aku rampungkan, tak terasa waktu serasa berjalan sangat cepat. Banyak hal yang aku dapatkan di bangku kuliah, dari mulai pengetahuan dari buku literatur kuliah, kisah pengalaman yang coba dibagikan para dosenku, cerita-cerita para alumni yang telah bekerja di instansinya masing-masing untuk menjalani masa ikatan dinasnya, sampai opini-opini masyarakat perihal lahan pekerjaanku mencari nafkah nanti seperti apa.

Aku mulai mengerti resiko apa yang akan aku hadapi kedepannya, aku akan bekerja di sebuah instansi pemerintahan yang job description nya adalah mengelola keuangan negara. Tugas mulia akan dipanggul oleh ku dan teman-temanku lainnya yang senasib, seperjuangan, yang menempuh pendidikan di kampus itu dengan dibiayai menggunakan uang negara, sungguh sangat tidak bijak jika kita tidak melakukan balas budi kepada negara atas apa yang telah kita terima. Semoga aku mampu mengemban amanah ini.

Tak terasa 8 tahun sudah waktu kulalui sejak saat aku memutuskan untuk mengambil studi di kampusku untuk menjadi seorang pegawai negeri yang bersahaja, dengan mengikhlaskan cita-citaku untuk menjadi seorang sarjana teknik. Sekarang saat ini, ketika ku buka, ku baca, selembar demi selembar buku diaryku ini, kunikmati pikiranku terbang kembali mengenang masa-masa dulu, kunikmati kisah hidupku sendiri, terkadang tanpa sadar kutersenyum sendiri mengenang kekonyolan-kekonyolanku dulu, mencoba mengingat idealisme-idealisme di masa kuliah dulu, yang tak tau apakah semua itu masih terjaga atau sudah mulai luntur oleh waktu, semoga saja masih terjaga.

Sekarang ini, di Kementerian Keuangan, tempat aku berkarya, tempatku mengamalkan ilmu yang telah ku peroleh, tempat ku mengaktualisasikan diri, dan tempatku mencari nafkah sebagai pegawai negeri, Reformasi Birokrasi sedang mulai dibangun. Aku beserta rekan-rekan kerjaku sekarang ini sedang menjadi pelaku sejarah, sebagai perintis pilar Reformasi Birokrasi. Reformasi Birokrasi yang menurutku adalah sebuah nilai yang sangat sejalan dengan idealisme-idealisme yang kutanamkan sejak di bangku sekolah dulu. Aku jadi teringat seorang guru pengajar di kelasku dulu ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, namanya Pak Tatang, beliau adalah guru mata pelajaran IPS dikelasku. Ada satu nilai yang ditanamkan oleh beliau yang sampai saat ini masih kuingat terus, ujar beliau di depan kelas “Kalian nanti kalo jadi seseorang, apapun pekerjaan kalian, bekerjalah dengan sebaik mungkin, jika menjadi sopir angkot, jadilah sopir angkot yang penuh semangat dan dedikasi dalam bekerja, sopir angkot yang mencintai pekerjaannya, agar supaya kelak bisa menjadi bosnya sopir angkot, yang memiliki banyak armada angkot.” Nilai moral yang terus aku pakai sampai saat ini, untuk selalu berusaha mencintai pekerjaan yang diamanahkan kepadaku. Dengan Reformasi Birokrasi, maka aku bekerja dengan aman, semua pintu untuk masuknya korupsi ditutup rapat, sehingga ruang gerak atau peluang seseorang oknum untuk melakukannya sangatlah sempit. Meskipun ada saja cara oknum untuk mencari celah-celah dari sistem yang ada.

Namun seketika juga hati ini terasa geram, melihat tingkah perbuatan salah seorang oknum alumni kampus dimana tempatku memperoleh idealisme-idealisme yang diajarkan oleh para dosenku dulu, mengenai integritas dan moralitas yang harus ditanamkan dalam diri kami saat nanti kami terjun di dunia pekerjaan. Oknum yang melakukan perbuatan memperkaya diri dengan melakukan korupsi. Sungguh sangat memalukan apa yang dilakukan oleh oknum tersebut seperti yang sedang banyak diberitakan oleh media akhir-akhir ini. Perbuatan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai Reformasi Birokrasi yang tengah ditegakan oleh seluruh rekan-rekan di lingkungan Kementerian Keuangan. Perbuatan oknum itu sangat mencemarkan nama baik almamater kami, dan tentu saja membuat opini masyarakat menjadi buruk mengenai Kementerian Keuangan.

Ya sudah lah, tampaknya memang perjuangan Reformasi Birokrasi masih baru sampai tahap membangun pondasi, masih panjang cerita ini, aku dan teman-teman seperjuanganku harus terus bersama mengawal proses Reformasi Birokrasi ini. Dan tentu saja akan terus ku tuliskan di dalam buku diari ku, yang mulai saat ini buku ini akan ku beri nama Catatan Atas Laporan Kehidupanku disingkat CaLK, mengadopsi dari bagian Laporan Keuangan Pemerintah Pusat atau LKPP yang di dalamnya juga terdapat CaLK, Catatan Atas Laporan Keuangan. Nama ini kuberikan supaya setiap kisah dari hari-hariku yang kujalani dapat bermanfaat bagi anak-anaku kelak, atau bahkan orang lain, yah paling tidak bisa menjadi sarana introspeksi bagi diriku sendiri.

Jika Kementerian Keuangan dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat memasang target opini dari auditor Badan Pemeriksa Keuangan yaitu Wajar Tanpa Pengecualian, maka tugasku atas Catatan Atas Laporan Kehidupanku adalah jangan sampai di berikan opini Disclaimer oleh Nya, tentu saja aku akan mengisinya dengan rangkaian tawakal, diiringi rangkaian doa yang tak henti-hentinya, agar terus berjalan pada trek yang diridhoi-Nya. (teguhpribadi)

Sunday, June 28, 2009

Kembali (lagi)

aku hanya bisa terdiam memandangnya
namun...
tersenyum hatiku didalamnya
ada rasa yang indah,
menangis haru hatiku di lubuknya
ada syukur yang terucap,
karna bagiku
menerima kelebihan orang yang kita cintai sangatlah mudah
namun menerima kekurangannya adalah perjuangan untukku
karena diriku tidak pernah tahu kemana arah takdir Nya
aku gelap memandang kedepan, hanya cahaya doa yang aku bawa untuk menempuh perjalanan ini
aku tidak perlu alasan kenapa aku ingin hidup bersamanya
tidak pernah aku menemukan alasannya jika dia menanyakannya padaku
mungkin terlalu rumit untuk diungkapkan

dengan segala kerendahan hati
kembali ku menyapanya
kembali ku menghapus air matanya

mengapa kehadirannya(lagi) kali ini terasa berbeda
Apakah benar? Bagaimana jika? lalu mengapa?
Frasa-frasa itu terus memenuhi benakku
yang membuat dia sedih jika mendengarnya
seakan rasa percayaku tak ada lagi untuknya

aku tak tahu
sangat buta kali ini

meninggalkannya kali ini akan menyakitinya
begitu juga dengan diriku

tapi apakah bisa memupuk kembali rasa percaya itu
yang telah habis terkikis oleh keegoan dia
karena dia terlalu memikirkan perasaannya sendiri
asyik seperti anak kecil yang tak pernah mau tau
perasaan orang lain(diriku dianggap orang lain)

apakah bisa menumbuhkan kembali rasa percaya itu
aku buta ya Rabb
Aku sangat buta

pernah ku utarakan hal ini padanya
reaksi dia membuat haru hatiku
ada air mata kesungguhan kali ini
dia sangat tidak ingin melepasku
air matanya itu telah membasahi hatiku
dan aku masih mencintainya

mengapa aku masih mencintainya...
aku sadar aku masih mencintainya...

aku akan berusaha memupuk kembali
rasa percayaku kepadanya
merawatnya dan terus mambiarkannya tumbuh liar
memenuhi ruang hatiku...

meskipun kadang aku marah
uring-uringan tanpa sebab
ketika membuka kembali masa lalu
masa lalu yang akan sangat membuatku marah besar

aku perlu belajar menerimanya
aku perlu waktu yang panjang untuk mengeringkan luka ini

ya Alloh ampunilah hamba Mu ini
mudahkanlah jalannya jika memang Engkau memberikan ridho Mu.

Saturday, February 14, 2009

Bintang Jatuh

malam ini kulihat bintang jatuh,
berwarna kebiruan dengan ekor yang menyala terang,
begitu cantiknya...

sampai ku teringat akan sebuah dongeng,
yang menjadi cerita pengantar tidur,
seorang ibu pada anaknya,

sampaikanlah pada bintang jatuh...
apa yang engkau harapkan...
maka ia akan menyampaikannya kepada Tuhan...
sampaikanlah dengan setulus hatimu...

maka saat itu juga
kusampaikan inginku pada bintang jatuh

ya Tuhan
aku mencintai dirinya

ijinkan aku menyuapkan sup hangat
ketika ia demam,
ijinkan aku berbagi tawa
tuk mengiringi bahagianya,
ijinkan aku berbagi air mata
tuk mengiringi sedihnya,
ijinkan aku duduk setiap sore bersamanya
tuk mendengarkan ceritanya,
dan...


ya Tuhanku....
maka biarkan diriku menjadi tua bersamanya...
untuk slalu menjaganya...
melindunginya...

Sunday, January 25, 2009

untukmu yang disana

Dingin
malam ini sedingin sikapmu padaku
entah mengapa ? apa yang telah aku perbuat?
sampai-sampai dingin ini menyergapku
menusuk, hingga ke balik kulit
tulangku...
hatiku....
otaku....

inikah caramu mengujiku....

Monday, November 17, 2008

Ketika Tuhan Berkata Tidak

Ya Tuhan ambillah kesombonganku dariku.
Tuhan berkata, "Tidak. Bukan Aku yang mengambil, tapi kau yang harus
menyerahkannya."

Ya Tuhan sempurnakanlah kekurangan anakku yang cacat.
Tuhan berkata, "Tidak. Jiwanya telah sempurna, tubuhnya hanyalah
sementara."

Ya Tuhan beri aku kesabaran.
Tuhan berkata, "Tidak. Kesabaran didapat dari ketabahan dalam
menghadapi cobaan; tidak diberikan,
kau harus meraihnya sendiri."

Ya Tuhan beri aku kebahagiaan.
Tuhan berkata, "Tidak. Kuberi keberkahan, kebahagiaan tergantung
kepadamu sendiri."

Ya Tuhan jauhkan aku dari kesusahan.
Tuhan berkata, "Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari jerat duniawi
dan mendekatkanmu pada Ku."

Ya Tuhan beri aku segala hal yang menjadikan hidup ini nikmat.
Tuhan berkata, "Tidak. Aku beri kau kehidupan supaya kau menikmati
segala hal."

Ya Tuhan bantu aku MENCINTAI orang lain, sebesar cintaMu padaku.
Tuhan berkata... "Ahhhh, akhirnya kau mengerti !"

Maafkan Saya bila Saya Mengeluh

Hari ini, di sebuah bus, aku melihat seorang gadis cantik dengan rambut pirang.
Aku iri melihatnya. Dia tampak begitu ceria, dan kuharap akupun sama.
Tiba-tiba dia terhuyung-huyung berjalan.
Dia mempunyai satu kaki saja, dan memakai tongkat kayu.
Namun ketika dia lewat, dia tersenyum.
Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh.
Aku punya dua kaki. Dunia ini milikku!

Aku berhenti untuk membeli bunga lili.
Anak laki-laki penjualnya begitu mempesona.
Aku berbicara padanya. Dia tampak begitu gembira.
Seandainya aku terlambat, tidaklah apa-apa.
Ketika aku pergi, dia berkata, "Terimakasih. Engkau sudah begitu baik.
Menyenangkan berbicara dengan orang sepertimu. Lihat saya buta."
Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh.
Aku punya dua mata. Dunia ini milikku.

Lalu, sementara berjalan,
aku melihat seorang anak dengan bola mata biru.
Dia berdiri dan melihat teman-temannya bermain.
Dia tidak tahu apa yang bisa dilakukannya.
Aku berhenti sejenak, lalu berkata,
"Mengapa engkau tidak bermain dengan yang lain, Nak?"
Dia memandang ke depan tanpa bersuara,
lalu aku tahu dia tidak bisa mendengar.
Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh.
Aku punya dua telinga. Dunia ini milikku.

Dengan dua kaki untuk membawa aku ke mana aku mau.
Dengan dua mata untuk memandang matahari terbenam.
Dengan dua telinga untuk mendengar apa yang ingin kudengar.
Oh Tuhan, maafkan aku bila aku mengeluh…

www.airputih.tk