




Ini adalah megenai kebiasaanku yang entah aku sendiri lupa sejak kapan aku melakukannya, yaitu menuliskan kisah atau cerita yang aku alami sendiri yang menurutku sangat berkesan, unik, lucu, sedih, atau saja aku hanya ingin sekedar mencurahkan isi pikiranku melalui tulisan-tulisanku, tanpa harus ada orang lain yang suka atau tidak suka, dan setuju tidak setuju, karena buku ini hanya aku yang membacanya. Buku-ku ini adalah temanku disaat aku membutuhkan tempat untuk mencurahkan segala keluh kesahku dalam menjalani hari-hariku. Buku diary ini sudah cukup lama menemani hari-hariku, sudah banyak cerita yang aku tuliskan disana.
Bermula dari cerita mengenai perasaanku setelah lulus sekolah menengah atas, perasaanku yang campur aduk setelah diterima di salah satu kampus sekolah tinggi ikatan dinas terkenal dimana seluruh mahasiswanya tidak dikenakan biaya pendidikan dan para lulusannya akan diangkat menjadi pegawai negeri. Perasaanku saat itu sangat senang, meskipun tak pernah sekalipun aku bercita-cita untuk menjadi seorang pegawai negeri, namun karena ikatan dinasnya itulah aku berharap banyak untuk dapat meringankan beban kedua orangtuaku dalam hal biaya kuliah. Namun disisi lain ada beberapa hal yang membuatku cemas, diantaranya adalah aku sama sekali tidak memiliki gambaran sama sekali mengenai Program Studi tempat dimana aku diterima di sekolah tinggi tersebut, Program Diploma III Kebendaharaan Negara.
Kebendaharaan Negara…? Mendengarnya saja aku baru pernah, bahkan ketika melakukan pengisian formulir pendaftaran Ujian Saringan Masuk-nya-pun, pada saat itu aku hanya asal isi saja, sungguh tindakan yang sangat beresiko sebenarnya menurutku, menempuh studi mengenai hal yang diriku saja tidak tahu mengenai masa depan yang terhampar kedepannya mengingat aku akan memulai karirku dari situ dan sejak saat itu, dan tentu saja akan menjadi lahan nafkah bagiku nantinya. Tapi kuyakinkan diriku, semoga ini keputusan yang membawaku kepada arah yang lebih baik.
Bahkan sampai saat daftar ulang pun hatiku masih ragu, untuk melepaskan pilihanku yang satu lagi. Ya memang pada saat yang hampir bersamaan pada saat itu, dalam sebuah lembaran salah satu surat kabar harian, dalam kolom pengumuman hasil seleksi penerimaan mahasiswa, namaku tertulis, dengan jurusan Teknik Elektro di salah satu universitas di dekat kota kelahiranku. Namun aku kembali menguatkan batinku, untuk mengikhlaskan cita-citaku menjadi sarjana teknik untuk bisa bekerja disalahsatu perusahaan milik Negara yang aku impi-impikan. Inilah saatnya bagiku untuk menentukan pertama kalinya pilihan yang paling menentukan dalam hidupku, dan aku harus membuat keputusan, tidak boleh setengah-setengah, karena sikap setengah-setengah adalah merupakan sifat yang egois menurutku. Bagaimana tidak egois? Jika memperoleh kebaikan darinya aku akan setia pada keputusanku, tetapi sebaliknya jika keburukan yang aku peroleh maka aku akan meninggalkannya, sungguh sikap yang tidak patut.
Seminggu, sebulan, setahun, dan tak terasa tiga tahun masa pendidikan telah aku rampungkan, tak terasa waktu serasa berjalan sangat cepat. Banyak hal yang aku dapatkan di bangku kuliah, dari mulai pengetahuan dari buku literatur kuliah, kisah pengalaman yang coba dibagikan para dosenku, cerita-cerita para alumni yang telah bekerja di instansinya masing-masing untuk menjalani masa ikatan dinasnya, sampai opini-opini masyarakat perihal lahan pekerjaanku mencari nafkah nanti seperti apa.
Aku mulai mengerti resiko apa yang akan aku hadapi kedepannya, aku akan bekerja di sebuah instansi pemerintahan yang job description nya adalah mengelola keuangan negara. Tugas mulia akan dipanggul oleh ku dan teman-temanku lainnya yang senasib, seperjuangan, yang menempuh pendidikan di kampus itu dengan dibiayai menggunakan uang negara, sungguh sangat tidak bijak jika kita tidak melakukan balas budi kepada negara atas apa yang telah kita terima. Semoga aku mampu mengemban amanah ini.
Tak terasa 8 tahun sudah waktu kulalui sejak saat aku memutuskan untuk mengambil studi di kampusku untuk menjadi seorang pegawai negeri yang bersahaja, dengan mengikhlaskan cita-citaku untuk menjadi seorang sarjana teknik. Sekarang saat ini, ketika ku buka, ku baca, selembar demi selembar buku diaryku ini, kunikmati pikiranku terbang kembali mengenang masa-masa dulu, kunikmati kisah hidupku sendiri, terkadang tanpa sadar kutersenyum sendiri mengenang kekonyolan-kekonyolanku dulu, mencoba mengingat idealisme-idealisme di masa kuliah dulu, yang tak tau apakah semua itu masih terjaga atau sudah mulai luntur oleh waktu, semoga saja masih terjaga.
Sekarang ini, di Kementerian Keuangan, tempat aku berkarya, tempatku mengamalkan ilmu yang telah ku peroleh, tempat ku mengaktualisasikan diri, dan tempatku mencari nafkah sebagai pegawai negeri, Reformasi Birokrasi sedang mulai dibangun. Aku beserta rekan-rekan kerjaku sekarang ini sedang menjadi pelaku sejarah, sebagai perintis pilar Reformasi Birokrasi. Reformasi Birokrasi yang menurutku adalah sebuah nilai yang sangat sejalan dengan idealisme-idealisme yang kutanamkan sejak di bangku sekolah dulu. Aku jadi teringat seorang guru pengajar di kelasku dulu ketika duduk di bangku sekolah menengah pertama, namanya Pak Tatang, beliau adalah guru mata pelajaran IPS dikelasku. Ada satu nilai yang ditanamkan oleh beliau yang sampai saat ini masih kuingat terus, ujar beliau di depan kelas “Kalian nanti kalo jadi seseorang, apapun pekerjaan kalian, bekerjalah dengan sebaik mungkin, jika menjadi sopir angkot, jadilah sopir angkot yang penuh semangat dan dedikasi dalam bekerja, sopir angkot yang mencintai pekerjaannya, agar supaya kelak bisa menjadi bosnya sopir angkot, yang memiliki banyak armada angkot.” Nilai moral yang terus aku pakai sampai saat ini, untuk selalu berusaha mencintai pekerjaan yang diamanahkan kepadaku. Dengan Reformasi Birokrasi, maka aku bekerja dengan aman, semua pintu untuk masuknya korupsi ditutup rapat, sehingga ruang gerak atau peluang seseorang oknum untuk melakukannya sangatlah sempit. Meskipun ada saja cara oknum untuk mencari celah-celah dari sistem yang ada.
Namun seketika juga hati ini terasa geram, melihat tingkah perbuatan salah seorang oknum alumni kampus dimana tempatku memperoleh idealisme-idealisme yang diajarkan oleh para dosenku dulu, mengenai integritas dan moralitas yang harus ditanamkan dalam diri kami saat nanti kami terjun di dunia pekerjaan. Oknum yang melakukan perbuatan memperkaya diri dengan melakukan korupsi. Sungguh sangat memalukan apa yang dilakukan oleh oknum tersebut seperti yang sedang banyak diberitakan oleh media akhir-akhir ini. Perbuatan yang bertolak belakang dengan nilai-nilai Reformasi Birokrasi yang tengah ditegakan oleh seluruh rekan-rekan di lingkungan Kementerian Keuangan. Perbuatan oknum itu sangat mencemarkan nama baik almamater kami, dan tentu saja membuat opini masyarakat menjadi buruk mengenai Kementerian Keuangan.
Ya sudah lah, tampaknya memang perjuangan Reformasi Birokrasi masih baru sampai tahap membangun pondasi, masih panjang cerita ini, aku dan teman-teman seperjuanganku harus terus bersama mengawal proses Reformasi Birokrasi ini. Dan tentu saja akan terus ku tuliskan di dalam buku diari ku, yang mulai saat ini buku ini akan ku beri nama Catatan Atas Laporan Kehidupanku disingkat CaLK, mengadopsi dari bagian Laporan Keuangan Pemerintah Pusat atau LKPP yang di dalamnya juga terdapat CaLK, Catatan Atas Laporan Keuangan. Nama ini kuberikan supaya setiap kisah dari hari-hariku yang kujalani dapat bermanfaat bagi anak-anaku kelak, atau bahkan orang lain, yah paling tidak bisa menjadi sarana introspeksi bagi diriku sendiri.
Jika Kementerian Keuangan dalam menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat memasang target opini dari auditor Badan Pemeriksa Keuangan yaitu Wajar Tanpa Pengecualian, maka tugasku atas Catatan Atas Laporan Kehidupanku adalah jangan sampai di berikan opini Disclaimer oleh Nya, tentu saja aku akan mengisinya dengan rangkaian tawakal, diiringi rangkaian doa yang tak henti-hentinya, agar terus berjalan pada trek yang diridhoi-Nya. (teguhpribadi)